Tanyakan Jawabannya pada Semesta
“Mbak, main, yuk, ke Magelang. Atau nanti aja pas libur lebaran. Mampir, ya, kalau jalan-jalan ke sana.”
“Wkwkwkwk. Iya, Ibu, insya allah.”
Begitulah percakapan singkat antara seorang ibu dan gadis perempuan yang sudah lama tidak menyapa langsung. Kupikir, percakapan tersebut akan berlangsung secara singkat. Namun ternyata, tidak.
Lantas dalam batin berkata, tidak ada salahnya juga untuk bermain ke sana. Namun, akankah kita bisa bertemu?
Benar, kita—aku dan dia. Sudah kurang lebih tujuh tahun kita tidak saling menyapa. Oh iya, aku melupakan satu hal. Waktu itu, kita sempat bertegur sapa singkat. Rasanya cukup asing untuk kita yang awalnya menjadi sepasang teman, lalu berpisah untuk menjalankan kewajiban masa depan masing-masing dan dipertemukan kembali ketika tidak sengaja bertamu ke rumahnya.
Hai. Apa kabar? Kudengar, semester enam ini baru ambil program magang, ya? Sukses terus untuk ke depannya.
Tidak banyak berharap untuk dapat menyapa kembali. Karena, beberapa permintaan untuk bertamu, tidak terlaksana dengan lancar.
Titip salamku untuk dia, ya, Bu. Kuharap kita tidak pernah asing atas ketidakadilan semesta yang memisahkan kita pada waktu itu. Sampaikan terima kasih dan maafku atas kesalahan yang mungkin tidak pernah diharapkan untuk dilakukan.
Kudus, 26 Maret 2024
Komentar
Posting Komentar