Akhir?
“Selamat bertambah umur.”
“Masih lama. Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Menitipkan ucapan terlebih dahulu. Takut jika nanti tidak bisa hadir kembali.”
“Jangan bicara begitu. Aku tidak suka.”
“Nggak ada yang minta untuk disukai.”
Setelahnya dia diam, lalu berbalik arah meninggalkanku yang menatap kosong sekitar.
Harusnya pertemuan yang tidak sengaja ini dimanfaatkan dengan baik. Harusnya pertemuan ini tidak berakhir asing. Dan harusnya-harusnya lain yang kulafalkan dalam batin ketika dia memilih untuk membalikkan badan tanpa menoleh ke belakang lagi.
Saat aku akan mengikutinya untuk meninggalkan tempat itu, beberapa pesan masuk. Kubaca pesan dari nomor tak dikenal terlebih dahulu. Tertulis, "Susul dia. Minta maaflah. Kakak tahu kamu nggak bermaksud seperti tadi. Dia menjawab begitu karena dia sayang kamu. Cepat. Sebelum dia memutuskan untuk mengambil tawaran ke luar negerinya."
Belum kubalas, pesan berikutnya muncul, "Kakak tahu kamu nungguin dia bertahun-tahun. Kakak juga tahu kamu sayang sama dia. Jangan lewatkan kesempatan ini. Ikutilah segera."
Aku berjalan tergesa ke arah yang dia tuju tadi. Belum lama, tapi jejaknya sudah tidak bisa kutemukan. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling berulang kali sambil terus berjalan tanpa tahu arah.
Mengambil ponsel untuk membalas pesan dari kakaknya tadi. "Tidak ada, Kak. Aku udah ngikutin ke mana arah dia jalan."
***
Ternyata pertemuan itu sudah terjadi lima tahun yang lalu. Saat itu aku memilih menyerah. Menyerah pada semesta yang berulang kali memisahkanku dengan seseorang. Menyerah untuk tidak menunggu siapapun. Dan menyerah untuk semua hal yang sedang kuperjuangkan.
Kudus, 30 Mei 2024
Komentar
Posting Komentar