Selamat

 “Hai,” sapaku kembali setelah bertahun-tahun tidak berkomunikasi sembari tersenyum. 

“Maaf,” balasnya dengan menundukkan kepala. 

“Maaf buat apa?” tanyaku yang tidak paham apa maksud dari permintaan maafnya. 

Helaan napasnya terdengar dengan jelas. Sesak di dadaku tak bisa dihindari. Namun, aku terus berusaha untuk memberikan senyuman terbaik. Karena setelah pertemuan yang sengaja kuminta ini, aku akan pergi menjauh dan menutup semua akses komunikasi untuknya. Anggap saja pertemuan ini sebagai salam perpisahan secara tidak langsung. Nanti, jika semuanya sudah baik-baik saja, akan kuceritakan mengapa aku mengambil keputusan tersebut. 

“Maaf untuk yang sudah-sudah. Maaf untuk kejutannya kemarin. Maaf untuk ke depannya juga.” Begitu kalimat ini selesai diucapkan, isak tangisnya terdengar. 

“Selamat atas pernikahannya. Semoga dilancarkan. Aku senang mendengarnya.” Tanganku terulur sebagai simbol dari ucapan. 

Dia mendongakkan kepalanya dan berkata, “Kenapa senang? Bukannya harusnya yang tertulis dalam undangannya itu namamu? Pesan yang kamu sampaikan padaku dua tahun lalu. Aku bisa batalkan, jika kamu masih mengingat pesannya dan berharap segera terlaksana.” 

“Tidak perlu. Lanjutkan saja pernikahannya. Patuhi permintaan Abi dan Umimu. Ikuti jejak Kakak-kakakmu itu yang mana mereka dijodohkan. Aku pamit dulu, Mas. Terima kasih sudah berkenan memenuhi permintaanku untuk bertemu. Sampaikan salamku untuk keluarga.” Setelah mengucapkan ini, aku membalikkan badan dan berlalu meninggalkan dia yang masih terdiam. 

Senyum di bibirku masih terpampang hingga langkahku sampai pada tempat tujuan. Bandara Ahmad Yani. Tempat keberangkatan yang akan menjadi langkah awal dari jalan hidupku setelah mengajaknya bertemu untuk yang terakhir kalinya. Tanpa menolehkan pandangan ke belakang, langkah kakiku membawa diri berjalan menuju ruang keberangkatan pesawat yang sudah kupilih sebelumnya. 

“Selamat tinggal Indonesia. Sampai berjumpa kembali ketika semuanya sudah membaik.” 

Dalam perjalanan menuju bandara tadi, aku sudah membuang kartu sim yang bertahun-tahun kupakai dan menggantikannya dengan yang baru. Berharap setelah hari ini usai, kehidupanku berjalan seperti tidak ada apa-apa. 

Tidak ada penyesalan yang tertinggal. Tidak ada rasa ingin kembali. Lega, ketika pesan yang ingin kusampaikan sudah tersampaikan dengan baik langsung kepada dia. 

“Jika kita bertemu suatu saat nanti, kuharap yang kudengar adalah kabar baik.” 



Kudus, 20 Maret 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir?

Tanyakan Jawabannya pada Semesta