Postingan

Tanyakan Jawabannya pada Semesta

“Mbak, main, yuk, ke Magelang. Atau nanti aja pas libur lebaran. Mampir, ya, kalau jalan-jalan ke sana.”  “Wkwkwkwk. Iya, Ibu, insya allah.”  Begitulah percakapan singkat antara seorang ibu dan gadis perempuan yang sudah lama tidak menyapa langsung. Kupikir, percakapan tersebut akan berlangsung secara singkat. Namun ternyata, tidak.   Lantas dalam batin berkata, tidak ada salahnya juga untuk bermain ke sana. Namun, akankah kita bisa bertemu?  Benar, kita—aku dan dia. Sudah kurang lebih tujuh tahun kita tidak saling menyapa. Oh iya, aku melupakan satu hal. Waktu itu, kita sempat bertegur sapa singkat. Rasanya cukup asing untuk kita yang awalnya menjadi sepasang teman, lalu berpisah untuk menjalankan kewajiban masa depan masing-masing dan dipertemukan kembali ketika tidak sengaja bertamu ke rumahnya.  Hai. Apa kabar? Kudengar, semester enam ini baru ambil program magang, ya?  Sukses terus untuk ke depannya.  Tidak banyak berharap untuk dapat menyapa...

Akhir?

“Selamat bertambah umur.”  “Masih lama. Kenapa?”  “Tidak apa-apa. Menitipkan ucapan terlebih dahulu. Takut jika nanti tidak bisa hadir kembali.”  “Jangan bicara begitu. Aku tidak suka.”  “Nggak ada yang minta untuk disukai.”  Setelahnya dia diam, lalu berbalik arah meninggalkanku yang menatap kosong sekitar.  Harusnya pertemuan yang tidak sengaja ini dimanfaatkan dengan baik. Harusnya pertemuan ini tidak berakhir asing. Dan harusnya-harusnya lain yang kulafalkan dalam batin ketika dia memilih untuk membalikkan badan tanpa menoleh ke belakang lagi.  Saat aku akan mengikutinya untuk meninggalkan tempat itu, beberapa pesan masuk. Kubaca pesan dari nomor tak dikenal terlebih dahulu. Tertulis, "Susul dia. Minta maaflah. Kakak tahu kamu nggak bermaksud seperti tadi. Dia menjawab begitu karena dia sayang kamu. Cepat. Sebelum dia memutuskan untuk mengambil tawaran ke luar negerinya."  Belum kubalas, pesan berikutnya muncul, "Kakak tahu kamu nungguin dia b...

Selamat

  “Hai,” sapaku kembali setelah bertahun-tahun tidak berkomunikasi sembari tersenyum.  “Maaf,” balasnya dengan menundukkan kepala.  “Maaf buat apa?” tanyaku yang tidak paham apa maksud dari permintaan maafnya.  Helaan napasnya terdengar dengan jelas. Sesak di dadaku tak bisa dihindari. Namun, aku terus berusaha untuk memberikan senyuman terbaik. Karena setelah pertemuan yang sengaja kuminta ini, aku akan pergi menjauh dan menutup semua akses komunikasi untuknya. Anggap saja pertemuan ini sebagai salam perpisahan secara tidak langsung. Nanti, jika semuanya sudah baik-baik saja, akan kuceritakan mengapa aku mengambil keputusan tersebut.  “Maaf untuk yang sudah-sudah. Maaf untuk kejutannya kemarin. Maaf untuk ke depannya juga.” Begitu kalimat ini selesai diucapkan, isak tangisnya terdengar.  “Selamat atas pernikahannya. Semoga dilancarkan. Aku senang mendengarnya.” Tanganku terulur sebagai simbol dari ucapan.  Dia mendongakkan kepalanya dan berkata, “Kena...