Asing yang Asing
Lembaran kosong itu tak kunjung terisi. Ribuan chat yang lalu rasanya percuma. Sapaan yang hampir dua puluh empat jam dilakukan—mulai dari bangun tidur, hingga tidur lagi—rasanya hambar.
“Ah, melamun saja kamu ini. Memikirkan yang lalu kembali?” Za menghampiriku yang ternyata tinggal sendiri di sini. Dia sudah menyelesaikan pekerjaannya di kafe ini. Dan aku, sengaja mampir ke sini untuk mencoba menu barunya.
“Hehehehe. Sudah terlanjur dibawa ke rumah soalnya yang satu itu,” elakku. Dan kuakui, ternyata kita sudah hampir sejauh itu.
“Coba lagi, ya, nanti. Beri jeda dulu perasaanmu itu. Nggak ada salahnya untuk menerima tamu hari itu. Takdir yang membuat kalian asing beberapa saat setelah hari pertemuan itu.”
Satu tahun sudah berlalu darinya memutuskan untuk menjaga jarak terlebih dahulu. Kita menjadi dua manusia asing yang melanjutkan kisah sebagaimana mestinya. Perkenalan dan pertemuan kita kala itu, anggap saja tidak pernah terjadi.
Dan, selamat merangkai kisah baiknya hingga menemukan yang tepat.
Dan, selamat mengabadikan nama dan kisahnya untuk lebih mengenalnya.
~ Kudus, 12 November 2024
Komentar
Posting Komentar